0 Comment
Kita mungkin  pernah hilang kendali, mencoba menghindar dari sesuatu yang tidak ingin kita temui. juga ketika tanpa sengaja melingkar di tempat yang sama serta peran berpikir sangat tidak memadai untuk menghilang dari peredaran. kadang kala semua itu membuat kita bingung berkepanjangan, tapi tidak sampai pada titik jenuh yang membuat kita terjatuh, akan tetapi ini bisa menjadi tolak ukur bagaimana kita bertindak untuk sesuatu yang tidak kita mengerti pada alur yang tersaji secara rapi. 
ketika kita berada dalam sebuah ambigu yang panjang dalam sebuah percakapan, orang akan mengira dan bahkan hampir memvonis kita sebagai seseorang yang lugu dan tidak tahu apa-apa, kemudian tanggapan itu otomatis berpindah arah yang menjadikan tingkat kepercayaan diri kita terbentur dengan keadaan sekitar, lalu hadirlah sebuah "insiden" salah tingkah misanya, tidak tahu mau berbicara sementara mulut terus saja berirama tidak jelas. ini menunjukkan bahwa ketidak sengajaan kita dalam berucap sehingga salah secara kalimat, jika terus diperdebatkan atau di pertentang oleh pihak yang masuk dalam kategori membenci kita, maka ini akan sangat mempengaruhi sisi Psikis seseorang untuk melangkah maju, 
apalagi kalau ia seorang anak kecil yang mungkin baru mengenal sesuatu.
hal ini mungkin tidak semua orang pernah mengalami, tapi lihatlah pada sesuatu yang sekiranya terus di orak-abrik, maka kita tahu bersama ini akan sangat berbahaya sekali.

dalam kehidupan ini kita perlu membagikan cerita kepada siapapun yang memang di anggap layak untuk diceritakan.
lalu kadang juga itu terbatas karena memang kadar dan kapasitas kita sebagai seseorang yang masuk dalam katergori orang yang tertutup menjadi kaku yang tidak terbantahkan. 
deretan keterbatasan itu hadir dalam gelap, artinya tidak ada tempat untuk bertanya dan menelaah. cenderung bersikap biasa namun membara, otak yang cerdas secara Emosional sangat ampuh menghadapi hal semacam ini. tapi fatal akhirnya jika itu terus menerus terulang. tidak bisa juga kita membiarkan posisi yang seperti itu layak untuk menjadi acuan dalam menanggapi ketidak nyamanan yang hadir. 

Semua itu adalah suka duka yang dia rasakan saat masih kecil dulu, ia sering di buli dan dihina, diserang psikolginya, di racuni pikirannya untuk tidak bergerak, dia merangkak dalam keadaan bengkak, llidahnya yang kadang kaku dalam berucap menjadikan ia terhina hingga emosional tingkat dewa dan emosi bisa menyusut seketika. ia sadar akan ketidak nyamanan, ini bertanda bahwa ia memang benar-benar sadar. dalam langkah ia hanya bisa menjalani dengan bakat yang mungkin itupun bukan bakat (yang ia nilai dari ucaopan orang lain). 




















Post a Comment

 
Top