0 Comment
Dulu setiap sendu adalah ragu
yang tak mengarahkan kita melangkah maju.
ketika fakta tak menerima rencana yang telah matang kita tak mampu mengalah oleh waktu dan ruang.
aku terima soal keputsan itu 
saat rindu masih kupeluk dalam-dalam
disaat bersamaan kau tiup lilin perpisahan 
yang membuatku kalah dalam pertempuran.

aku kadang rindu dengan suasana itu,
yang duduk bukan hanya rasa di dadaku 
bahkan hembusan angin ribut terdengar renyah melewati telingaku.
cibiran oksigen yang masuk hanyalah soal bagaimana 
aku bisa melewatimu dari titik aku berdiri sampai 
nanti ada yang memberikan tanda koma.
namun pada akhirnya cerita diambil dengan mudah oleh
sejarah hingga tak satupun indera mampu membaca
soal siang yang seakan tak lagi menyapa senja.

aku mungkin bisa saja malu menatap masa lalu
dengan berbagai macam cemooh yang menggerutu,
aku hanyalah rindu yang terbuang
dari kumpulan panah yang siap membidik dan menyerang.

aku tak ingin lagi menatap itu.
aku ingin menjadi malam yang menunggu pagi
untuk jiwa yang menguasai dan memeluk diri.

karena harus ada keyakinan tentang bagaimana 
membuat diri tenang, 
meminimalisir langkah yang pasti walaupun mungkin kebetulan.
kita adalah kita, bukan aku atau kau. 
maka aku dan purbakala adalah aku dan rasa, bukan aku dan kau.
























Post a Comment

 
Top