0 Comment
Cerita yang semakin hari semakin berkembang 
tak menyurutkan niat untuk maju bersama 
menuju titik akhir sebuah pertemuan. 
namun ada yang lain dengan cerita kita kali ini, 
meningginya ego untuk menghindar atau berkurangnya 
niat untuk memulai sebuah ucapan. ketika hal itu menjadi 
lumrah untuk kita cerna, maka kebiasaan akan tidak 
adanya kabar sudah jelas di depan mata.
kebersamaan itu menciptakan hal yang tidka bisa kita prediksi. 
pecahnya suasana menjadi buntu yang membahagaiakan, 
mengusir lelah dan menambah ramah.

Kala itu kita pernah membangun tawa bersama, 
di langit mendung di sertai hujan turun sore hari. 
kita sepakat dipertemukan oleh senja, 
tanpa ingin bertanya mengapa ini berjalan dengan baik.
jalan yang kita lewati seakan tertawa menatap ria gembira 
kepada wajah yang berseri-seri itu. 
wajahku misalnya, ia tak tahu cara untuk tidak tersenyum, 
sumringahnya lengkap di kedipi embun-embun. 
kata-kata menyala layaknya buah yang akan dimakan, 
semangatnya melahap kalimat. 
caramu jernih mempermainkan waktu, 
menurutku itu sesuatu yang manis sekali. 
betapa sekian tahun tidak bertemu lalu 
dipertemukan di gubuk yang ber background Batang Kopi itu. 



lalu datang seorang yang singggah di gubuk itu, 
ia menatap kosong suasana, kita hanya diam memperhatikannya. 
dengan segenap keberanian aku bertanya pada ia yang abru datang, 
"dari mana Pak?", " dari seberang dek" Jawabnya. 
dan hanya cukup sampai disitu saja obrolan yang sangat singkat itu. 
hingga kita pun merasa malu karena jarak kita yang semakin dekat 
akibat hujan yang semakin deras. 
namun itu ternyata hanya sebentar. 
hujannya ingin bercanda dengan kita. 
seolah ia tahu kita baru saja bertemu, 
cangggung yang tanpa henti tergeletak dalam hati, 
entah itu rasa rindu, akupun tidak mengerti. 

Sejenak kita mungkin sama-sama tahu 
bahwa awal pertemuan yang sudah sejak lama 
akan terasa aneh saja sekilas. 
kehendak ingin bertemu pada kesempatan lain 
menjadi keinginan yang tanpa hentinya 
mempengaruhi otak kanan dan otak kiri untuk mengatasi, 
sekarang aku setuju jika menyebutnya rindu.
lalu dengan seiring waktu, kita di pertemukan 
dalam rasa yang sama, 
rasa ingin benar-benar bersama. 
entah itu nyata atau tidak, 
kita hanya bisa berencana. 
dan kehendak yang di inginkan tidak bisa kita prediksi kehadirannya. 

dan pada akhinya tatangan 
terberat ada pada ketika rasa sudah bersama 
sementara jiwa belum sepenuhnya bertatap muka dengan semestinya. 
seolah ada sesuatu yang mempengaruhi hati untuk mengenal waktu-waktu yang lain untuk mengatakan bahwa ini benar-benar nyata adalah tantangan terberat.














Post a Comment

 
Top