0 Comment

Persoalan tentang Kritik atas konten kampanye dan Program Capres di Pilpres 2019 ini cenderung dinilai menjauhi akar permasalahan rakyat. oleh karenanya berbagai macam persoalan yang di tampilkan dalam agenda debatpun kembali ingin kami ulas pada lain kondisi setelah MemantapkanPilihan setelah ronde pertama debat Capres 2019, dimana pokok-pokok permasalahan yang
 belum sepenuhnya terisi. mulai dari berbagai persepsi yang dilontarkan banyak pihak dengan niat membangun kapasitas kampanye yang mempunyai pikiran-pikiran mewah dan menggugah dalam berpolitik.

Dalam urusan politik kampanye yang sudah mulai menyebar luas, dengan berbagai gagasan yang diangkat dalam debat Capres-Cawapres, Tanggal 17 Januari 2019 kemarin menyisakan banyak hal yang kadang perlu dikaji ulang untuk melengkapi yang kurang dan tidak menambahi yang sudah ada. Sebagaimana Politik dalam negeri yang kembali ramai ini, serangkaian upaya untuk menciptakan keadaan demokrasi yang damai inipun harus melibatkan semua aspek peniliaian telah terlihat semenjak atau sebelum masa kampanye dimulai. kita sebagai masyakarat juga harus atau setidaknya melakukan berbagai padangan yang akurat dan melihat secara jeli terhadap informasi-informasi yang berkembang secara tidak terkendali.  

Secara kasat mata perbedaan pilihan yang terjadi saat ini benar-benar terasa terlihat ketika banyaknya media dunia maya yang berdominan untuk menyebarkan semangat perjuangan lewat informasi yang kadang tak sepenuhnya benar. Seolah ini menjadi sesuatu yang tidak dilarang untuk dilakukan saat penegakan dan Keadilan Hukum di negeri ini sedang maraknya kasus pelanggaran informasi yang tidak benar Hoax yang sekaligus menjadi aksi saling menyerang antar kubu seperi postingan orang-orang yang berada di kubu jokowi maupun Prabowo. inilah peran pikiran kita harus terkondisi dengan baik dan benar. dengan hal ini tentu dalam konteks benar secara prosedur kita selaku penerima ataupun pemberi infomasi harusnya tidak teralu gegabah dalam memvonis sesuatu informasi yang datangnya entah dari mana.  

Namun inilah dunia sosial media. fakta atau hoax kadang begitu tidak diperdulikan bagi mereka yang telalu mengumbar-umbar dengan maksud mendapatkan sesuatu yang besar seperti adanya jaminan dapat apa nantinya atau sejenis dengan jabatan apa yang didapat ketika nanti menang, sehingga segala cara dan ambisi dilakukan yang keadaannya langsung dinilai negatif oleh khalayak ramai. memang ini sepertinya tidak bisa dihindari, namun kembali kita harus benar-benar bijak menangkap informasi yang beredar seperti saat sekarang ini.

Kembali tentang kampanye yang telah berjalan selama ini sampai dengan berakhir pada acara Debat Capres 2019 yang telah dilakukan 17 januari lalu, bahwa kita sudah menyaksikan berbagai gagasan dari masing-masing kandidat secara padat namun terasa hambar. banyak informasi yang sebenarnya tidak begitu memuaskan. banyak pandangan yang masih mengawang-awang yang tertangkap oleh kita selaku masyakat biasa. ini sepenuhnya bukan salah dari kedua pasangan calon, salah karena topik yang dibawakan terkesan jauh dari akar permasalahan rakyat, walaupun memang ada beberapa gagasan yang terus mencuat tentang solusi yang ditawarkan adalah kesejahteraan ekonomi di negeri ini, namun seakan masih belum bisa menemukan dengan istilah temuan baru. artinya seperti tidak ada hal lain yang harusnya dibahas menjadi tidak dibahas minsalnya. tentu memang tidaklah mudah bagi mereka yang berjuang mendapatkan kursi orang nomor satu di negeri ini, berbagai gagasan yang kembali harus menjadi pokok permasalah rakyat benar-benar tertuju pada tempatnya.


Karena itu juga kita penduduk bangsa indonesia merasa kurang puas dengan isi debat semacam itu. Reaksi kekecewaan ini juga sangat dirasakan oleh Wakiil DPR-RI Fahri Hamzah, yang sempat memposting "Penonton kecewa kalau bayar 25 Trilliyun hanya untuk itu", dalam akun Instagramnya (Fahri Hamzah). ini menunjukkan bahwa masih jelas ada banyak kekurangan yang harus diperbaiki oleh pihak penyelenggara Pemilu maupun hal teknis lain yang mendukung terbentuknya agenda yang berkelas. 

Jika kita melihat satu persatu data yang ada si
 Iklancapres ini, akan terlihat jelas data yang sesuai dengan keadaan yang mengisi ruang kampanye yang sebenarnya masih terasa kosong sehingga kesan yang ada hanyalah jauhnya dari akar permasalahn rakyat. tentu ada poin penting yang harus tersampaikan secara tuntas di kaitkan dengan detail, termasuk ketika pembahasan tentang Korupsi, ada banyak kata-kata basi yang seolah hanya sekedar narasi pemberantasan korupsi. salah satu yang membuat kita atau mungkin sedikit merasa aneh ketika akar permasalahan yang sudah mungkin sudah jelas adanya sebuah penghalangan memberantas korupsi, yang melibatkan Novel Baswedan selaku petinggi KPK yang kasusnya belum terungkap hingga detik ini. Korupsi dan Transparansi yang ada didalamnya memang harus benar-benar diterapkan secara nyata. janji tentang pemberantasan korupsi hanya akan terus berlanjut jika akar belum tercabut. itu hanya gambaran bahwa itulah fakta yang terjadi sekarang. ketika pokok pembahasan kampanye yang seolah mempunyai sikap penghindaran terhadap urusan-urusan yang belum selesai menjadi kesan yang seolah-olah kita akan terus lupa dengan kejadian yang sudah terjadi dalam hal apapun. kita berharap ada gerakan yang mengarah kepada akar permasalahan, agar kita tidak selalu terjebak dalam ambisi tuduh menuduh bahwa yang dikerjakan selalu belum maksimal sehingga kesan yang munculpun tidak terbendung. dari berbagai tanggapan, kasus korupsi seperti tidak bisa dihentikan, karena maraknya Operasi Tangkap Tangan, dan masyarakat melihat itu. 


Disamping Korupsi dan Transparansi, juga ada terkait
 Keadilan Gender yang bisa saja memperluas pemahaman kita tentang keterlibatan perempuan untuk memperjuangkan hak dalam negeri ini. Namun tidak semua berjalan dengan yang telah ditetapkan dalam kebijakan. masih banyak Diskriminasi yang terjadi di negeri ini. topik yang dibahas dan di angkat dalam Debat Capres kemarin masih di anggap rancu dalam kepala.
terbukti ketika adanya pembahasan ibu-ibu bangsa yang masuk secara langsung sebagai Perempuan-perempuan Penentu yang mendapatkan mandat mengabdi dalam memimpin sebuah wilayah di negeri ini, menjabat sebagai menteri minsalnya, ini sudah hal biasa, seorang perempuan bisa saja menjadi presiden, dan itu pembahasan yang biasa-biasa saja. itulah mengapa kesan hambar menghiasi perakapan dalam debat tersebut. 

Lain kondisi memang secara umum ini telah menjadi darah daging dari Demokrasi yang ada di negeri ini. dengan adanya keterlibatan perempuan maka sudah sepantasnya apresiasi yang sama selalu kita junjung tinggi antara laki-laki dan perempuan.

Lalu masuk intisari dai sebuah Keberagaman Telah banyak terlihat bagaimana keberagaman seakan hanya menjadi tontonan yang sepertinya tidak akan terihat nyata. keberagaman di negeri ini memang sudah diterapkan berbagai kebijakan yang tampaknya mash saja amburadul. Keberagaman yang simpangsiur tak terukur. keberagaman berpendapat masih belum begitu diterapkan dengan rapi di negeri ini. kebebasan dalam berkespresi yang diperdebatkan dalam agenda Debat ronde Pertama terkait kebebasan berpendapat masih jauh dari kata memuaskan. 

Pada persoalan Lingkungan Hidup di negeri ini masih belum menemukan yang terarah, pencegahan-pencegahan kebersihan dalam target indonesia bebas sampah seakan menjadi cerita komik saja. sebagai contoh dari efek kurangnya memperhatikan lingkungan hidup adalah dengan adanya beribu ton sampah menggenangi laut indonesia, ini fakta miris yang terjadi negeri kita ini. Hal ini tak luput dari soal kesadaran kita selaku masyarakat yang belum mampu memikirkan hidup bersih. yang seperti ini juga harusnya menjadi pokok perhatian dalam pencapaian visi misi yang di uraikan. 

Masih bagitu banyak permasalahan Lingkungan yang belum belum selesai. setidaknya kita menerima informasi bahwa indonesia sedang berada dalam darurat sampah. ini menunjukkan bahwa belum maksimalnaya upaya yang diakukan peerintah dalam penanggulangan lingkungan yang bersih.

Terkait Disablitas, kita begitu pantas menyebut bahwa semua sama. bahkan kita sebagai makhluk sosial yang mulia harus bijak mengatur strategi mengambil langkah yang adil tanpa membedakan Disabilitas dan hidup normal. Disaat Nuansa politik yang memang kian hari semakin panas maka hal kecil yang dapat  menjadi ulasan akan muncul kepermukaan dengan nada emosional yang tak biasa, seperti ucapan yang sempat masuk berita ketika salah satu Pasangan Cawapres berkata "Hanya Orang buta dan tuli saja yang tidak meihat prestasi Jokowi", ini menimbulkan reaksi lapor dari penyandang Disabilitas kepada Banwaslu saat beberapa bulan yang lalu. padahal kita tahu bahwa dalam kampanye berbagai macam agenda bagus sudah di rencakan oleh pasangan calon seperti Penyetaraan Disabilitas yang ada. 


dengan hadirnya Keadilan Hukum yang masih saja belum menemui titik penyelesaian yang belum sepenuhnya terwujud. penerapan atas peraturan yang dibuat seakan tidak sesuai pada tempatnya. ini sudah pasti karena kita harus kembalikan keterkaitan ini dengan sensitifitas politik yang memanas. seperti kasus, sebenarnya bukan perkara, hanya saja politisasi yang membuatnya menjadi kasus yang seolah menjadi serius. seperti ucapan Capres, Prabowo tentang tampang boyolali yang diperpanjang, dan juga kasus serupa lainnya. ini adalah hal kecil yang berdampak besar, dan dibesar-besarkan. 

Prosedur hukum di negara ini haruslah tepat sasaran sesuai aturan main, nalar dan akal sehat. dengan keadaan hukum yang seperti terpandang netral maka hal yang tebang pilih tidak akan terjadi seperti yang di rencanakan oleh kedua Pasangan Capres-Cawapres 2019.

Dalam benak kita sadar akan tingkat kecintaan kita terhadap negeri ini sangatlah tinggi. rasa-rasanya tidak perlu seorang Capres-Cawapres diatur kata-katanya untuk mengungkapkan gagasan yang harus sepenuhnya berasal dari pikirannya, bukan dari pikiran penyelenggara, begitu kira-kira. Semua kita menginginkan yang terbaik untu negeri ini. hanya saja kita belum tahu mana yang baik mana buruk, tapi dari segala sinyal kita akan tahu harus meletakkan pilihan pikiran yang baik itu kepada siapa. semoga untuk ronde debat selanjutnya akan lebih baik lagi dan berkelas.




Oleh : Isya Andika, S.Kom
Perantau tangguh yang sedang belajar menempuh hidup dalam kumuh.
Terobsesi oleh rayuan opini yang begitu geli, tak ada unsur lain selain rasa peduli;



Sumber : 
http://www.iklancapres.id/
https://www.instagram.com/p/Bs-ZOQ0hhrg/









Post a Comment

 
Top