0 Comment
 
Pasca UAS, kampus yang biasanya ramai pada jam sibuk menjadi sunyi dan hanya ada beberapa orang yang terlalu penting di kampus seperti Dekan, Kaprodi, dan para mahasiswa yang aktif di organisasi masing-masing serta ada juga orang yang terlalu tidak penting, saya masuk di kategori terakhir. Di balik kesenian kampus, lantas ada pertanyaan lama yang hampir terhapus dari memori manusia yang saya punya. Pertanyaan nya adalah “apa hubungannya antara UTS atau UAS dengan peraturan harus memakai almamater? “
Pertanyaan itu adalah dilema yang tak diambil pusing oleh kaum mahasiswa era milenial. 

Muncullah pemikiran dalam benak saya bahwa sesungguhnya nyaris 3 tahun menjadi mahasiswa saya merasa senantiasa terbodohi oleh aturan yang goalnya adalah tanda tanya. Mahasiswa pastinya tau bahwa ujian harus membawa alat tulis, kartu ujian, dan almamater. Alat tulis juga berguna dalam hal teknis ujian, kartu ujian berfungsi sebagai penandatanganan atau bukti konkret yang tak bisa diperdebatkan bahwa mahasiswa tersebut telah menjalankan ujiannya, lantas apa gunanya almamater? Tidak ada jaminan nilai memuaskan yang didapat, tidak berpengaruh pada teknis ujian bahkan seluruhnya, aturan harus membawa almamater cenderung memberatkan dan terkesan sangat tidak mengandung unsur estetika apapun.  

Jika kemudian dosen bicara aturan itu berguna untuk mengetahui kedisiplinan mahasiswa, itu malah jawaban paling absurd. Masa kuliah dalam satu semester itu ada 16 pertemuan, yang dua diantaranya adalah UTS dan UAS. Jika kedisiplinan hanya diukur dari membawa almamater kala UTS dan UAS, apa gunanya kita datang tepat waktu dan mengikuti perkuliahan dalam 14 pertemuan lain? 
 
Ketika seseorang bertanya hal ini kepada saya, saya langsung merasa terlalu bodoh untuk mengemban predikat Mahasiswa. Aturan ini terkesan seperti pembodohan yang dibingkai sempurna oleh dalih identitas mahasiswa suatu universitas. Padahal dengan berpakaian yang rapi saja sudah cukup untuk memenuhi tingkat kedisiplinan itu sendiri.  

Bagaimana menghapus aturan ini?

Seorang pria yang pernah menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Jember dan saat ini sedang menempuh pendidikan S3, yaitu bapak Iffan Galant El Mohammady, pernah berkata aturan ini tidak akan bisa dihapus jika mahasiswa tidak merasa ada yang salah dengan ini. “Mahasiswa sekarang tidak ada yang merasa itu adalah masalah besar, semuanya merasa tidak ada yang salah dengan itu dan akan terus seperti itu sampai waktu yang tidak ditentukan, bahkan tak ada alasan logis mahasiswa harus memakai almamater kala UTS maupun UAS. Aturan itu akan selalu ada sampai mahasiswa berani mengatakan itu aturan yang tak ada faedahnya”. 
Faktanya sekarang, mahasiswa yang memakai almamater ke kampus akan senantiasa dianggap sedang menempuh UTS atau UAS, hampir pasti seperti itu. Dan di era milenial seperti saat ini, aturan ini dimanfaatkan untuk ajang swafoto para mahasiswa setengah alay, yang bermuara pada terdongkraknya popularitas di dunia maya.
Menghapus aturan ini tidak mudah, seluruh mahasiswa harus membuka matanya dan harus sadar seperti apa realita yang ada, bukan senantiasa menerima dan pasrah kepada seluruh aturan pihak kampus tanpa ada perlawanan dan perdebatan benar salah sebuah aturan tersebut. Semoga dan sudah seharusnya mahasiswa tercerahkan serta tidak mudah untuk sebuah aturan pembodohan berkedok identitas mahasiswa.


Oleh : Bayu Darmawan 
         (Sang Elektro)























* Mahasiswa dungu yang sudah terbodohi selama 5 semester tanpa ada sepatah kata tanya tentang apa yang membodohinya. Bergentayangan di Instagram dengan nickname @bayu_wen


Post a Comment

 
Top