HPNS 2019, Menuju Indonesia Bebas Sampah Plastik - Tempuhtamah.com

"Sedang Dalam Reparasi"

f

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Thursday, February 21, 2019

HPNS 2019, Menuju Indonesia Bebas Sampah Plastik


HPSN 2019, TPA Pakusari, Jember


Semenjak dari bangun di pagi hari aktifitas manusia langsung berhubungan dengan sampah. Kadang dengan tingkat kepedulian yang rendah kita menjadi enggan dengan membiarkan keadaan lingkungan yang semakin hari semakin memburuk. Keadaan itu dipicu oleh tingkat kesadaran akan memahami kondisi lingkungan terihat disepelekan, hal itu terlihat dengan beberapa tindakan ketidakmauan kita dalam membuang sampah pada tempatnya.


Indonesia memiliki lautan yang sangat luas, berbagai pulau menghubungkan aktifitas kita untuk berinteraksi. Dengan posisi yang luas itu maka tanggung jawab besarpun memang sudah menanti. Bukan hanya soal tanggung jawab yang dijalankan Oleh Pemerintah, tapi juga kembali, kepada kita yang ingin dan bagi yang mempunyai niat tulus untuk memperbaiki keadaan lingkungan kita hari ini untuk masa depan kita nanti.Memang, ketika kita mendegar kata “Sampah” yang terbayangkan hanyalah soal menjauhi tanpa mau memperbaiki. Hal-hal seperti inilah yang bisa kita asah pelan-pelan soal kesadaran peduli lingkungan yang mungkin telah hilang, akan menjadi sedikit lebih peduli.


Bahkan jikapun seandainya sampah telah dibuang ke tempat sampah ini bisa tetap akan menjadi masalah, apalagi jika dibiarkan. Tapi dalam konteks kita ingin melakukan perubahan maka sesuatu yang kita sebut sampah sebagai sumber masalah bukan dari sampah itu sendiri, melainkan bagaimana cara kita menanganinya.

Lalu jika berbicara dampak dari tidak adanya kesadaran menangani sampah itu senidiri adalah dengan melihat beberap kejadian dari berbagai jenis yang sampah yang baru-baru ini kita melihat bahwa begitu mirisnya lautan kita sekarang. Keterangan dari Liputan6.com, Tahun 2018 lalu bahwa ada seekor ikan paus ramai diperbicangkan lantaran memakan sampah plastic yang terbuang di laut lepas. Ini terjadi di Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tak tanggung-tanggung, paus yang berukuran 9,5 meter dan lebar 1,85 meter itu didapati dalam keadaan sudah menjadi bangkai. Jumlah sampah plastik yang ada dalam perutnya seperti mengiris-iris di ulu hati ketika kita melihatnya. Bagaimana tidak, sampah yang ada dalam perut Paus itu mencapai kurang lebih 6 kilogram.
Hal ini menunjukkan bahwa ada hal besar yang selama ini tidak kita perhatikan akan berdampak begitu menyakitkan bagi makhluk hidup yang ada di laut. Solusinya adalah tidak cukup hanya dengan daur ulang Sampah, akan tetapi juga harus dengan Reduksi yang  dilakukan supaya sampah tidak sempat tersentuh oleh lingkungan yang dominan liar merasakan pencemaran lingkungan. Maka dari itu marilah mulai dari saat ini kita lebih memperhatikan dari titik terkecil asal mula sampah bisa membesar agar tidak menimbulkan dampak bahaya bagi lingkungan. Dengan memperhatikan bahwa Paradigma lama pengelolaan sampah seperti 
KUMPUL  
> ANGKUT    > BUANG
Akibatnya Menimbulkan dampak negatif  terhadap Lingkungan (Pencemaran  Udara Air  Dan Tanah).




bersih-bersih lingkungan

Maka perubahan yang bisa dilakukan adalah merubah  image  sampah  dari  barang  buangan menjadi sumber daya : 
  •  Implementasi 3R ;
  •  Sampah  MASIH  bernilai ekonomis.
Bisa juga seperti 
Merubah  sistem  pengelolaan sampah:
  •  Sampah  diolah  sejak dari sumbernya (dari hulu ke hilir)
  •  Pengelolaan sampah adalah  : bagian tak  terpisahkan dari pengendalian pencemaran serta mitigasi dan  adaptasi perubahan   iklim
Lalu perubahan selanjutnya yang bisa dilakukan adalah
  • Merubah  Perilaku 
  • Perubahan perilaku  pemerintah  : (pusat, provinsi dan kabupaten/kota)
  • Perubahan perilaku bisnis: extended producer’s responsibility
  • Perubahan perilaku masyarakat.
Secara garis besar pengelompokan sampah yang ada saat ini mulai atau bahkan sudah di amati untuk diteliti masa terurainya. Dan telah di temukan bahwa jenis sampah yang dominan mempunyai bahan plastik atau bahan sejenis plastik lainnya akan sangat lama menguarai. Berdasarkan data yang telah kami ulas dari paparan Sosialiasasi Penanggulangan Sampah Rumah Tangga, maka tahukan anda berapa lama sampah itu dapat terurai? 
dapat dikelompokkan seperti berikut ini :

·        KERTAS        = 2,5  BULAN
·        KARDUS          = 5 BULAN
·        KULIT JERUK    = 6 BULAN
·        SPON SABUN    = 25 TAHUN
·        SEPATU KULIT    = 40 TAHUN
·        KAIN NILON     = 40 TAHUN
·        PLASTIK        = 80 TAHUN
·        ALUMINIUM        =  100 TAHUN
·        GABUS /STEROFOAM  = TIDAK BISA HANCUR



Dari data tersebut kita bisa melihat dengan jelas bahwa waktu yang lama itu mungkin akan tidak kita rasakan hari ini, tapi anak cucu kitalah yang akan mendapat dampak dari semuanya. Mudah-mudahan dengan mengedepankan rasa peduli terhadap lingkungan kita akan lebih bersemangat memberantas sampah dengan Proses-proses yang ada saat. 



HPSN 2019

Semua itu dilakukan agar dalam ranah menuju Indonesia bersih dan bebas Sampah pada tahun 2025 yang di Programkan oleh Pemerintah Pusat akan terwujud dengan kesadaran yang sudah ada dari bawah.  
Dengan kegiatan yang bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional Tahun 2019 ini mari kita lestarikan dan bersihkan alam Indonesia yang indah ini.




Oleh  : Isya Andika, S.Kom
Patner Kamisahabatpena, Taliutam, "Indoneia Bebas Sampah Plastik"


























No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here