Kacaunya pikiran jika terakiti oleh Nalar, fiksi menjalar, egoisme menular - Tempuhtamah.com

"Sedang Dalam Reparasi"

f

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tuesday, February 12, 2019

Kacaunya pikiran jika terakiti oleh Nalar, fiksi menjalar, egoisme menular



Kita tidak pernah membanyangkan keadaan akan menjadi seperti ini,
dan "ngapain juga dibayangkan". Kejadian yang seolah terus saja bertolak belakang dengan nalar dan akal sehat. Kita semacam terjebak dalam angan yang sepertinya tidak akan pernah bersahabat. Eksistensi dan tendensius menjadi hal bisa kita kaitkan dengan semua ini, bisa jadi lebih terdukung karena ada berbagai macam pandangan yang bertolak belakang.
Mulai dari informasi yang kita dengar dan lihat, adanya kesepakatan janji diberikannya jabatan, dalam formasi-formasi yang telah disetujui di sebuah forum misalnya. inilah yang menegakkan pikiran kita terhadap sesuatu yang berbau rencana yang sangat terbaca oleh suasana egoisme dari sebuah kelompok. seolah-olah setelah nanti berhasil menduduki sebuah bangku kekuasaan maka akan sangat mudah memasukkan anggota yang telah disepakati dalam forum tadi untuk menjabat sebagai bagian terpenting dalam struktur terbesar di negeri ini.

Sekilas pikiran itu kadang-kadang tak jauh dari kata "Kita Heran". informasi yang terus kita terima dari berbagai macam argumen selalu saja berbelit-belit. Walaupun memang pengakuan  sangat tidak mungkin dilakukan jika yang bersangkutan merasa mempunyai peran penting bagi pergerakan bersama. ini adalah rumus terkecil yang selalu dilakukan kalangan yang ada ranah yang merasa bijaksana padahal hanya ocehan yang diterima.

Kita menanti Silogisme kenyamanan untuk menemukan titik dimana kita harusnya meletakkan pikiran yang mempunyai niat untuk membatasi kecenderungan berpikir mana yang layak dan tidak layak. Politik selalu menggiring kita kearah yang negatif, walaupun secara umum tidak sepenuhnya begitu. Birokrasi yang aman hanya akan terasa tentram jika keadilan dan kebebasan terarah sesuai porsi yang tertanam dibenak sanubari yang pikiran-pikirannya jelas. tidak hanya tentang membangun jalan secara fisik, namun lupa membangun jalan pikiran yang cerdas.
Masih adanya ilusi yang membidik pelan-pelan, mempengaruhi sejengkal kegelisahan, dan membawa visi-misi abal-abal karena berujung pengingkaran. Masyarakat biasa khususnya yang merasa nalarnya tidak tersakiti, hanya tahu memboyong langkah untuk menghindari ranah-ranah yang selalu dianggap basi, padahal dengan menjauhi, tanpa sadar itu adalah pendekatan awal yang disambut meriah oleh akal yang terjepit di tiang besar. Sungguh miris jika itu terjadi. 

Semua ingin agar selangkah lebih maju sebelum Pemisme menelan luar  dalam kepedulian kita terhadap tujuan yang selama ini digadang-gadang. alangkah baiknya pemeran yang terlihat selama ini sangat mencolok lantaran begitu nampak jelas siapa yang antagonis. selama pikiran itu lekat dan dekat dengan kita, maka pengendali yang paling utama adalah menggunakan referensi yang jelas, berupa langkah awal yang boleh sama-sama kia sepakati dengan mengambil pikiran yang tidak terlalu reaktif.
kita bisa secangkir lebih banyak untuk mengerti tentang makna kerukunan dalam menelaah secara berjamaah, agar hadirnya keharmonisan cepat menusuk otak yang selalu membawa pikiran-pikiran buruk.






Oleh : Isya Andika, S.kom

*orang yang sedikit gelisah tentang kehadiran kegelisahan itu sendiri.
bukan karena kacaunya pikiran, tapi bertanya-tanya mengapa begitu banyak nalar yang masih dipermainkan.





















No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here