Menyikapi Perbedaan Pola Pikir Dalam Pengetahuan - Tempuhtamah.com

"Sedang Dalam Reparasi"

f

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tuesday, March 12, 2019

Menyikapi Perbedaan Pola Pikir Dalam Pengetahuan

RajaPena

Sejak kecil kita selalu di ajarkan cara menghargai orang lain. Dengan berkawan kita lebih bisa memahami arti sebuah kesetiaan. Di sekolah kita terus belajar mengenai cara untuk hidup di dunia ini. hidup bertetangga, hidup berteman, hidup beragama, dan titiknya adalah kita akan menggantikan posisi itu menjadi hidup berumah tangga. Begitulah dunia berputar. Ia sejalan dengan keadaan, hal yang di tentukan sudah tertulis dalam takdirNYA, dan semua yang kita lakukan berusaha dan berdo’a. 


Dalam memahami konsep hidup itulah manusia terus mengembangkan filosofi (Kesejahteraan) untuk mencapai apa yang diperlukan manusia untuk hidup di dunia ini. Bermula dari cara-cara yang sesuai dengan ajaran agama atau kepercayaan dalam iman, juga pada spasi yang menghubungkan kita semua dalam suatu negara.
Oke mungkin tidak usah terlalu jauh tentang negara, sebut saja dalam satu desa, biar  lebih ringan.

Dalam menjalani hidup yang mempunyai lingkungan yang asri kita bisa merasakan lekukan alam yang indah merona. Sadar akan semua yang telah diberikan berupa Nikmat dan kita selaku makhluk patut dan harus bersyukur dengan apa yang telah ada.
Dengan nikmat itu kita kadang lupa cara mensyukuri, inilah mungkin yang menyebabkan kita tuli mendengarkan yang baik dan agresif menyapa yang buruk.

Disisi lain ukuran kedewaan kadang tidak bisa di ukur dengan umur. Kadang umur hanyalah sebuah formalitas agar  permasalahan tuntas. Karena secara Hakiki dewasa adalah bisa membedakan yang baik dan yang buruk.
Oke agar kita kembali dijalan akal sehat, nikmat memang banyak yang lupa kita sebut itu nikmat. Nikmat yang mungkin terabaikan, atau juga tahu tapi membngkam saja lalu diam. Sebut saja Nikmat berpikir, ya betul sekali,nikamt berpikir.

Berpikir adalah sebuah bentuk yang dikhususkan untuk mencapai sebuah tujuan dengan jelas. Bahkan semua orang bebas berpendapat untuk mengartikan pemikiran mereka. Tentu itu apa yang ada di kepala yang secara umum disebut “otak”. Jika ada yang bilang “gak ada otak kau ya” maka itu artinya pikiran ada namun non aktif (baterainya lowbat, haha). Ya begitulah cara pandang kita secara alami.

Jauh lebih dalam mengenai pemikiran. jika kita diciptakan untuk tidak berpikir maka kita tidaklah jauh berbeda dengan hewan berkaki empat. Karena kita adalah sesempurnanya makhluk yang Tuhan ciptakan paling sempurna dipermukaan bumi ini. Dengan berpikir khususnya menghidupkan pemikiran adalah hal yang sangat istimewa. Betapa tidak, semua ide-ide yang dikembangankan dengan berbagai macam penemuan di dunia ini adalah merupakan aktifnya sebuah pemikiran.

Memang pikiran itu tetap menyala dan hidup namun kadang belum sepenuhnya terisi dengan baik. Untuk mengisi pemikiran-pemikian itu kita bisa memilih untuk terus belajar dalam hidup. Belajar memahami, belajar berinteraksi, belajar segalanya yang membuat kita aktif dalam berpikir.
Disamping itu sebelum kita sampai pada titik itu lalu pemikiran yang menyimpang atau bisa dikatakan belum cukup paham mengenai arti sebuah pencarian pemahaman muncul seolah berserakan tak tentu arah. Berbagai macam pertanyaan muncul dari mulut yang kelihatannya tidak di aktifkan cara berpikirnya, mungkin yang ada hanyalah hal negatif yang telah tertanam rapi di otak.

Dalam hal ini ketika perguruan tinggi adalah salah satu wadah yang bisa dijadikan tempat untuk mengaktifkan pemikiran. Banyak yang berbondong kuliah dengan harapan mempunyai masa depan secara finasial yang indah, atau kuliah dengan tekad kuat ingin mencari pengalaman, yang mana semua maksud itu adalah cara untuk melakukan perubahan yang secara tidak langsung dirasakan bahwa itu adalah proses pencarian untuk membuat pemikiran  itu hidup dan aktif.

Acap kali ada ucapan ataupun kalimat dan narasi yang terlontarkan ketika ada pernyataan "Untuk apa sih kuliah, toh ujung-ujungnya nyari duit" seperti ini kerap membuat kita agak geram dengan pola pemikiran yang dianggap tidak menghargai keputusan orang lain. Maksud dari keputusan itu adalah sejauh mana ada tingkat kewarasan-kewarasan kecil yang harus melekat pada diri seseorang untuk memahami kondisi tertentu dalam mencapai yang sering kita sebut dengan “peka”. Sementara kapasitas kita memang berbeda-beda dalam memahami sesuatu. Ada yang hanya melihat sekilas bisa langsung paham, ada yang sudah diberi sinyal kerutan dahi tapi masih saja melanjutkan dan bisa disebut meremehkan “peka” itu sendiri. Soal peka mungkin agak susah dipelajari, namun karena ada banyak pilihan untuk memahami semua itu maka Pendidikan itu sangat perlu. Soal pertanyaan yang terlontar dari orang yang bagus isi dompetnya namun tidak bersekolah ini bisa menyebabkan cacatnya salah satu defenisi yang telah lama dipelihara oleh kaum terpelajar dan sudah lama menuntut ilmu namun belum begitu sejahtera hidupnya dari segi finansial. Namun tidak semudah itu untuk mengubah pola pikir orang berpendidikan. Disebut orang berpendidikan karena kelihaiannya mencapai pemahaman yang terstruktur atau tertata rapi. Konsep-konsep inilah jarang didapatkan oleh orang yang tidak berkuliah atau alangkah lebih tepatnya lagi adalah orang yang tidak mau belajar. Perbedaan-perbedaan yang menonjol mungkin agak jarang terlihat, karena untuk mendeteksi itu yang bisa berperan lebih jauh dan bisa dijadikan pilihan dan mungkin secara serius adalah ditangangi oleh orang yang faham dunia Psikologi.

Intinya adalah belum tentu yang berpendidikan tinggi bisa mengakifkan pemikirannya, dan belum tentu juga yang tidak berpendidikan tinggi tidak bisa mengaktifkan pemikirannya, dan diantara keduanya yang mempunyai kesempatan lebih besar untuk itu adalah yang ditempuh dalam wadah.
Yang membedakan itu, pola pikir dan bentuknya.
Untuk penutup, kita memang sudah ditakdirkan untuk hidup yang telah ditentukan arahya. Dalam sebuah firman Allah SWT berbunyi,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].
Inilah dasar, mengapa kita harus tetap berusaha dan berdo’a, untuk perubahan pola pikir. Dari anak-anak menjadi remaja, dewasa, dan menjadi tua.




No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here